2 Jan 2008

Menikah di Bulan Safar

Baru saja kubercakap - cakap dengan teman sekantor mengenai rencana pernikahan kami (dengan pasangan masing2 tentunya ;p). Begini cuplikannya :

Me : Jadi kapan nih nikahannya?
Her : Bulan Maret
Me : Maret? Tanggal berapa?
Her : Tanggal 22
Me : Aku tanggal x (disensor dulu ya, biar surprise... halah;p)
Her : Aku juga awalnya tanggal segitu, tapi katanya ga baik nikah di bulan Safar
Me : Hehehe, iya sih pernah denger. Tapi aku percaya semua hari baik... (sok cool walo bertanya2 dalam hati. ;p)

Sebenernya mitos bulan safar udah lama aku denger, tapi karena di lingkungan keluargaku tak pernah ada istilah hari baik dan hari buruk jadi ya mitos tadi ga aku pikirin. Penentuan tanggal pernikahanku sendiri lebih karena waktu cuti calon suami dan kapan gedung yang kita taksir kosong. Secueknya diriku, ternyata obrolan tadi malah bikin aku penasaran untuk dapat informasi yang lebih lengkap tentang mitos tersebut... (Dasar Miss Curious!!! hehehe) Dengan bantuan om GOOGLE aku cari 'menikah di bulan safar'.

Ada beberapa artikel tentang mitos ini yang kubaca dan hasilnya cukup melegakan diriku... ;p
Artikel pertama adalah blognya- Kurawa 11, isinya :

"Termasuk perkara2 yg menodai tauhid adalah anggapan bhw menikah di bulan Safar adl kurang baik. Dan ini dalam ilmu Tauhid disebut dengan thiyarah atau tathayyur (merasa sial) yang dilarang dalam Islam." Dalilnya: "At-Thiyarah syirkun" (Thiyarah/merasa sial adalah syirik) -HR Ahmad

Dari sini aku berkunjung ke forum tanya jawab di situs www.pesantrenvirtual.com, nah disini juga ada jawabannya...

"Menurut Islam, semua hari adalah baik. Dulu pada jaman Jahiliyah, masyarakat Arab mempercayai bahwa menikah di bulan syawwal atau bulan-bulan haram seperti muharram akan mendatangkan malapetaka. Rasulullah s.a.w. kemudian mengikis kayakinan tersebut, beliau menikahi Aisyah r.a. pada bulan syawwal. Beliau juga menikahkan puterinya Fatimah pada bulan shafar dan sebagian riwayat mengatakan awal bulan Muharram."

Dengan niat suci kumantapkan hati ini...
Hanya pada-Mu ya Allah, kusandarkan hidup dan matiku...

8 komentar:

Filla A.Kemirah mengatakan...

rieka, tadinya baru aku mau tanya sama om google tentang nikah dibulan safar, eh eh tnyata rieka dah bikin review duluan...

semoga pernikahannya membawa keberkahan..ya ka..,

semoga Allah senantiasa selalau memantapkan hati kita dan memudahkan perjalanan kita melangkah menggenapkan setengah dien. amiin...

good luck ya ka;)

wibi mengatakan...

iya Rieka, semua hari baik kok :) selamat ya atas pernikahannya, semoga nanti lancar..Selamat, Kamu sudah menjalankan setengah perintah agama..

helmi matari mengatakan...

ah kata siapa semua hari baik dalam islam?.........

kenapa puasa di bulan Ramadhan? (tidak di bulan shafar saja kalau semua bulan baik) kenapa ada shalat berjamaah wajib di hari jumat? kalau menurut saya sih Tuhan menciptakan hari-hari/waktu khusus dengan kekhususan tertentu?.....sampai saat ini saya tidak bisa menjawab mengapa shalat shubuh setelah kemunculan fajar dan haram shalat setelah fajar tergelincir (makanya tidak ada shalat rawatib ba'da shubuh?......

Rieka mengatakan...

ah mimi, dirimu kritis sekali...
hari baik disini konteksnya untuk menikah... sementara untuk puasa & shalat memang ada waktu - waktu keutamaannya seperti yang tertuang dalam al-quran & hadis... (cmiiw)

Anonim mengatakan...

alhamdulillah.. semoga lancar..

rukhyati lilik mengatakan...

Aku pun sangat bingung,ortu aku bilang kurang baik,sedangkan.calon suami aku n aku sndiri kbtulan dpat cuti d bln syafar sampai sampai aku n calon suami aku berantem gara2 mslah.itu,.

ea_call mengatakan...

Iya neh bulan safar bikin galau hahahahha.........
iya neh cm gara2 bulan safar aja bikin riweh, mau nurutin kata ortu/ tp camer ga bs libur, klo ortu gak di turutin dikatain ngeyel. Makasih riviewnya buat semangat ksih pencerahan sm ortu neh hehehe. Smoga Allah selalu memberikan jalan yang terbaik buat kita. Amin ya Rabb.....

Amer Ramhadan mengatakan...

@helmin: yang di maksud baik adalah tidak membawa kesialan, semua hari baik. walaupun ada penentangan puasa pada hari tertentu, namun hari tersebut tetap saja tidak membawa kesialan. syariah mengatur konteks ibadah, pada waktu bulan dan hari tertentu. namun tetap saja tidak ada hari, waktu, bulan yang membawa kesialan. coba di bedakan konteksnya.

Poskan Komentar